Awalnya bayangan saya waktu di adakan acara Live in itu tempatnya sangat terpencil sekali dan penduduknya sangat sedikit, yang mandinya di sungai, dan BAB nya juga susah.Tetapi itu semua salah karena tempatnya sangat eank sekali, apalagi penduduknya yang ramah-ramah sekali.Saya kira penduduk sana sangat asing dengan ke datangan saya dan teman-teman.Saya pada saat Live in tinggal di rumahnya Bapak Sukarjo, beliau tinggal bersama dengan ibunya,adik perempuannya,dan tinggal dengan dengan ponakan-ponakannya.
Ponakanya itu ad ada 4 orang, yang 2 itu masih sokolah, dan yang 2 lagi itu masih kecil-kecil.Saya tinggal di rumah itu sangat senang sekali, apalagi keluarga itu sangat sopan dan baik sekali.Saya selama tinggal di rumah itu saya benar-benar tidak menyangka sekali kalau pekarjaan mereka itu berladang.Dan yang saya salutkan itu semua penduduk di situ tidak pernah mengeluh dengan kondisi yang mereka jalani itu, mereka pergi k ladang yang jaraknya jauh sekai pun mereka tidak pernah menggunakan kendaraan, mereka selalu berjalan kaki dan saya sangat salut kepada mereka.
Saya benar-benar mendapatkan pengalaman yang sangat indah dan sangat mengesankan sekali.Belum pernah saya punya pengalaman untuk pergi ke ladang, memberikan makan kambing, pergi ke rumah teman atau ke warung berjalan kaki yang jaraknya lumayan jauh sekali.Dan saya juga belum pernah merakan udara di pagi hari yang sejuk sekali, benar-benar beda sekali sama di Jakarta.
disana banyak sekali kegiatannya, pas saya sampai saya benar-benar d smbut oleh penduduk sana,.hari ke dua saya di sana, saya bangun pagi dan langsung nyapu lalu saya membantu masak itu pun hari-hari seterusnya saya di sana sama apa yang saya lakukan, tiap malam saya berkumpul bersama dengan keluarga itu, kadang bercanda-canda bersama dengan mereka.
pada malam itu ada pertunjukan wayang d desa itu, saya, Bapak Karjo, dan Ika berjalan menembus sepinya mlm itu jaraknya sangat jauh sekali saya awalnya benar-benar tidak sanggup buat jalan tapi meraka tetap berjalan apa boleh buat tidak mungkin saya pulang ke rumah sendirian malam-malam,dan akhirnya saya dengan yang lainnya sampai juga.Tapi sesampainya saya disana wayangnya belum mulai juga, ya sudah saya dan Ika akhirnya makan bakso terlebih dahulu smbil menunggu wayangnya mulai.Bakso pun sudah habis tapi wayangnya belum juga mulai, akhirnya saya dan Ika pulang juga karena wayangnya belum mulai juga.
17 Agustus pun tiba, ternyata di pahtihombo msh tetap merayakan 17an perayaannya pun sangat meriah sekali, pertama ibu-ibu senam bersama, terus di lanjut kan dengan lomba voly, setelah itu ada satu perlombaan yang sangat unik sekali di Jakarta itu namanya lomba panjat pinang dan pastinya menggunakan pohon pinang tapi uniknya itu di sini mereka tidak menggukan pohon pinang tapi menggunakan pohon pisang, cara perlombaannya juga sama seperti panjat pinang.Tapi kalau lomba yang ini benar-benar unik sekali di Jakarta juga belum ada orang yang melombakannnya.Pada lomba itu murid laki-laki tarsi2 ikut mereka benar-benar merasakan senangnya, selesai lomba itu semuanya pergi ke gereja untuk beribdah.Di gereja pasturnya menggantikan kotbahnya dengan menanyakan pengalaman yang telah terjadi oleh masing-masing siswa tetapi tidak semua siswa di tanyain tapi hanya perwakilan saja dari sekolah.
pulang dari gereja saya ngobrol-ngobrol sama keluarga Bapak Sukarjo, setelah itu saya d ajakin lagi nonton wayang, tapi akhinya saya nonton wayang lagi sama seperti sebelumnya makan bakso dulu.
besoknya saya pulang ke Jakarta dan saya berpisah dengan keluarga yang saya tinggalin, dan berpisah dengan penduduk-penduduk di sana.
~Selesai~
itulah pengalaman saya pada saat saya tinggal di Pathihombo.
Rince Anggraeni
XI IPS 1